Langsung ke konten utama

MOTIVATION LETTER - TO BE OR NOT TO BE

 To be or not to be

            Kalimat terkenal dari buah karya terkenal William Shakespear “Hamlet”. Kalimat yang diucapkan tokoh utama dalam tajuk tersebut. To be or not to be bukan sebuah trendmark atau slogan, To be or not to be sebuah kalimat yang bermakna dalam. “Haruskan aku hidup (to be) atau mengakhirinya saja (Not to be). Kalimat yang muncul ketika sang pangeran merasakan kepedihan yang sangat. Kalimat yang membuka Hamlet, kalimat yang muncul ketika Pangeran Hamlet memulai perjalanan penuh tragedinya. Ketika Hamlet memulai Hamlet, ketika sebuah tragedi dimulai.

            To be or not to be kalimat yang diucapkan Hamlet ketika ayahnya dibunuh oleh pamanya. Tragedi Hamlet baru dimulai, karena Hamlet adalah Tragedi itu sendiri. Setelah membunuh ayahnya sang paman menikah dengan ibunya. Tragedi dan Tragedi. Sakit hanya sakit, kepedihan dan kepedihan yang dirasakan oleh Hamlet.

To be or not to be

            Ada banyak penderitaan ada banyak tragedi ada banyak kepedihan ada banyak kesedihan ada banyak kesengsaraan ada banyak hal buruk ada banyak kesialan ada banyak keburukan ada banyak rasa sakit yang kita hadapi. Semua rasa sakit, pendritaan, tragedi itu membuat kita harus memilih.

To be or not to be

            Kita menghadapinya atau kita menyerah padanya. Setiap masalah pasti ada jalan keluar, tetapi tidak semua jalan keluar tersebut terbuka untuk kita. Kadang hanya beberapa jalan keluar yang dapat kita lalui. Kadang kita ingin berteriak agar semua mendengar kita, dan membukakan jalan keluar tersebut pada kita. Namun, mereka seolah-olah lebih tahu dari kita membisukan kita mengetuk palu begitu saja. Sehingga mau tidak mau kita hanya bisa memilih jalan keluar yang telah mereka tentukan.

            Jalan keluar yang hanya akan membawa kita kemasalah, tragedi, rasa sakit baru. Jalan keluar, semua mencari jalan keluar hingga seolah-olah kabur dari masalah. Saatnya kita sadar bahwa jalan keluar bukan satu-satunya cara menyelesaikan masalah. Ada banyak caranya hanya saja kata ‘jalan keluar’ sudah tertanam pada diri kita.

            Menghadapi masalah langsung hingga ke akar permasalahnya. Langsung berhadapan dengan masalah tersebut hingga kita bisa meresolusi sumber masalah itu. kebahagiaan sejati akan kita dapat jika kita menyelesaikan akar masalah itu. semua akan selesai seperti mencabut benalu dari akarnya.

            Tetapi benalu tersebut berduri, kita harus membiarkan diri kita merasakan sakit sekali lagi yang lebih berat demi mencabut benalu itu. Semakin lama kita menbiarkan benalu itu maka semakin panjang benalu tersebut merambat. Semakin rusak inangnya. Sehingga mau tidak mau kita harus mencabut benalu itu saat masih kecil. Walupun berduri dan letaknya tinggi.

            Rasa sakit tersebut tidak akan sebanding dengan rasa sakit yang akan datang di masa depan nanti. Rasa sakit bisa diobati dengan cara menanamkan sugesti pada diri kita sendiri. Percaya pada diri sendiri bahwa kita mampu menghadapinya. Percaya dan cinta pada diri sendri. Mencintai diri sendiri sepenuhnya. Terus cintain diri sendiri karena hal tersebut akan membuat kita berani menghadapi masalah, berani menghadapi rasa sakit demi menemukan kebahagiaan sejati.

            Rasa cinta yang membuat kita berdiri walaupun rasa sakit, tragedi, kesedihan, keputusasaan, kepedihan datang pada kita. Rasa cinta yang membuat kita kuat, membuat kita bertahan, rasa cinta yang tidak pernah ternilai harganya. Rasa cinta pada diri kita sendiri hanya akan bisa terwujud jika kita memiliki identitas kita, mengetahui diri kita. Belajar mencintai diri sendiri membuat kita bisa menghadapi masalah di masa depan. Karena kita tidak tahu bagaimana kisah kita berakhir. Seperti Hamlet kah? Atau justru sebaliknya?

To be or not to be

            Kamulah yang menentukan jawabanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak Ada Seorangpun yang Bisa Mengentikanmu dari Mencintai Dirimu Sendiri

  Love Yourself             Mencintai diri sendiri bukanlah suatu bentuk egoisme atau narsisme dan bukan pula individulisme atau bahkan overpride. Mencintai diri sendiri bukan berarti kita mengulang cerita Dewa Narcissus. Mencintai diri sendiri tidak akan membuat kita tenggelam ke dalam danau yang jernih. Mencintai diri sendiri tidak akan membuat diri kita mati. Love Yourselft             Self-harm, phsycological issues, fear, mental illnes? Adalah kata-kata yang dapat mendeskripsikan generasi Z? Ada sangat banyak! Distress, suicide, dan lain-lain.             Ini bukan sebuah paradigma, pandangan masyarakat, sterotip atau isu dan kabar burung. Ini adalah kenyataan yang terjadi. Sebuah fenomena gunung es, gunung es yang bisa menenggelamkan generasi Z jika tidak memiliki navigasi yang hebat.    ...